Selasa, 25 Mei 2021

TIPS MENGHADAPI PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP

 HARI/TANGGAL   : Sabtu / 29 Mei 2021

MATERI                  :TIPS MENGHADAPI PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP
KELAS                    : VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF
SEKOLAH              : SMP Negeri 2 Sragi
KONSELOR            :  Ayu Andani, S.Pd.


KESIAPAN MENGHADAPI PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP 

A.   KESIAPAN MENTAL DALAM BELAJAR

       Kalau kita membaca judul di atas maka kita dapat mengatakan bahwa pernyataan tersebut sangat sederhana, tetapi kalau kita mau menjawab secara benar dan jujur maka kita semua perlu sekali untuk merenung sejenak sebelum menjawab pernyataan yang sederhana tersebut. Jawaban dari pernyataan yang sederhana tesebut antara peserta didik yang satu akan berbeda dengan yang lain. Mungkin ada sekelompok peserta didik yang menjawab: ”saya belum siap sama sekali untuk ujian”. Mungkin ada yang menjawab: ”saya cukup siap untuk ujian”. dan juga ada sekelompok siswa yang menjawab: ”saya sudah sangat siap untuk ujian”.

       Bahwa kegiatan belajar itu perlu dipelajari (learning to learn). Learning to learn mengandung arti bahwa dalam kegiatan belajar itu peserta didik perlu sekali mempelajarinya, sehingga peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien. Dengan belajar efektif dan efisien maka peserta didik dapat belajar dengan hasil yang optimal.

       Sebelum melaksanakan kegiatan belajar, hal yang sangat penting adalah adanya kesiapan- kesiapan mental (psikis) yang harus dimiliki oleh para peserta didik. Dengan kata lain sebelum belajar para peserta didik perlu menyiapkan kondisi mental yang mendukung. Adapun kondisi mental yang harus disiapkan antara lain:

1.      Motivasi

2.      Konsenterasi

3.      Rasa percaya diri

A.    Motivasi Belajar

Sebagai ilustrasi, terjadi pada 3 (tiga) peserta didik yang mana peserta didik pertama yang tampak segan dalam belajar, karena tidak mengetahui kegunaan mata pelajaran sekolah. Hasil belajar peserta didik tersebut tergolong rendah. Seteleh guru memberi informasi tentang pentingnya kegunaan mata pelajaran, peserta didik tersebut mengubah perilaku belajarnya. Peserta didik tersebut tampak semakin rajin belajar dan hasil belajar akhir semester menjadi tergolong baik. Peserta didik kedua tampak segan belajar karena urusan pergaulan dengan teman sekolahnya. Awalnya peserta didik ke dua ini sangat rajin belajar dan termasuk siswa yang berprestasi dalam kelasnya. Tapi karena suatu hal, terjadi keretakan persahabatan dengan sahabat karibnya satu kelas. Keretakan hubungan tersebut mengubah perilaku belajarnya menjadi malas dan hasil belajarnya menurun. Setelah guru pembimbing menghubungi sekelas dan orangtua peserta didik tersebut, peserta didik tersebut mengubah perilaku belajarnya. Peserta didik tersebut tampak belajar lebih bersemangat, dan hasil belajarnya menjadi lebih baik. Peserta didik ketiga adalah peserta didik yang rajin dan bersemangat belajar tinggi. Padahal peserta didik tersebut juga mengalami keadaan yang mengganggu konsenterasi belajarnya, yang mana peserta didik tersebut berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga terpaksa masih tinggal bersama- sama keluarga orang tuanya (tinggal di rumah nenek). Namun demikian peserta didik tersebut mampu mengatasi gangguan dan hambatan belajarnya. Peserta didik tersebut menggunakan kesempatan jam istirahat untuk  belajar di perpustakaan, yang mana  pada saat yang sama teman-temannya ramai-ramai ke kantin. Dengan kesadaran yang tinggi tentang kondisi orangtua dan pentingnya masa depan, peserta didik ketiga selalu selalu pandai menggunakan waktu luang. Usaha yang dia lakukan ternyata tidak sia-sia, dia selalu  menduduki peringkat atas setiap penerimaan rapot.

       Dari tiga contoh peserta didik tersebut di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa salah satu faktor yang penting dalam belajar adalah adanya motivasi dalam diri peserta didik. Pada contoh peserta didik pertama, motivasi peserta didik yang rendah menjadi lebih baik setelah peserta didik memperoleh informasi yang benar Pada contoh peserta didik yang kedua motivasi dapat menjadi rendah dan dapat diperbaiki kembali. Pada contoh peserta didik ketiga, motivasi belajar tinggi karena memiliki kesadaran yang tinggi tentang masa depan dan ingin memenuhi harapan orang tua.

       Motivasi pada hakekatnya adalah suatu kekuatan atau dorongan psikis pada diri individu untuk melakukan kegiatan atau tindakan dalam rangka mencapai tujuan. Motivasi belajar adalah suatu dorongan (keinginan) atau kekuatan mental pada peserta didik yang menjadi penggerak untuk belajar. Dari ulasan di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa motivasi sangatlah penting untuk dimiliki peserta didik dalam rangka untuk meraih kesuksesan dalam belajar.

       Dalam rangka keberhasilan ujian maka dalam belajarnya seorang peserta didik perlu sekali memiliki semangat yang tinggi, ulet dan pantang menyerah dalam belajarnya. Sesuai dengan hakekat belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan mengulang- ulang maka seorang peserta didik jika dalam belajar belum menguasai materi yang dipelajari dengan baik maka peserta didik tersebut haruslah bersemangat dan kerja keras untuk mengulang dan mengulang dalam mempelajari materi tersebut sampai benar- benar menguasainya dengan baik.

B.     Konsenterasi

       Belajar  yang ideal sehari 4 (empat) jam dalam kondisi konsenterasi. Belajar lebih dari 4 (empat) jam tetapi tidak dengan konsenterasi maka hasilnya akan sia-sia dan membuang energi percuma. Sering terjadi dalam kegiatan belajarnya, peserta didik dalam belajar secara fisik duduk menghadapi buku pelajaran tetapi pikirannya melayang-layang tidak menentu. Selesai membaca halaman kedua tidak ingat lagi materi yang dipelajari pada halaman pertama. Atau saat membaca halaman ketiga sudah lupa apa-apa isi materi yang barusan dipelajari pada halaman sebelumnya. Kenapa demikian ? Jawabannya adalah sangat sederhana: karena pada saat peserta didik belajar tidak konsenterasi.

       Contoh gampang untuk memahami konsenterasi adalah seorang pemburu burung atau binatang lainnya yang bersenjatakan senapan. Dalam menembak sasaran seorang pemburu perlu sekali memiliki daya konsenterasi yang tinggi. Tanpa daya konsenterasi yang tinggi sasaran tembak akan meleset tidak mengenai sasaran. Belajar pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan peristiwa seorang pemburu dalam menembak buruannya.    

       Konsenterasi pada dasarnya adalah pemusatan fikiran (fokus) pada segala sesuatu yang sedang dihadapi. Konsenterasi belajar adalah kemampuan peserta didik untuk memusatkan pikiran dan perasaan (perhatian) pada pelajaran yang sedang dipelajari. Daya konsenterasi pada individu pada dasarnya bisa ditumbuh kembangkan. Menumbuh kembangkan konsenterasi dapat dilakukan dengan latihan berulang-ulang. Berdasarkan pengalaman penulis, saat yang tepat melatih menumbuh kembangkan konsenterasi adalah belajar pada pagi hari menjelang dan setelah  subuh. Karena pada saat – saat tersebut otak kita masih fresh dan suasana hening. Jika peserta didik terbiasa belajar pada saat tersebut maka dia akan memiliki daya konsenterasi yang tinggi sehingga walaupun peserta didik tersebut belajar ditempat yang kurang mendukung (ramai) peserta didik tersebut niscaya masih bisa belajar dengan konsenterasi.

       Dalam rangka untuk menumbuh kembangkan daya konsenterasi pada diri peserta didik maka peserta didik tersebut dalam belajarnya perlu sekali mendisplinkan diri dengan baik dan butuh kerja keras yang dilandasi rasa keyakinan untuk berhasil.

C.    Rasa Percaya Diri.

       Sering kita membaca atau mendengar pepatah yang mengatakan ”mengalah sebelum berperang”. Pepatah tersebut ternyata sering terjadi pada saat peserta didik menghadapi ujian. Banyak peserta didik yang cemas atau takut sedemikian rupa menjelang ujian karena beberapa faktor sehingga hasil ujiannya tidak maksimal, dan tidak sedikit yang berakibat fatal sehingga berujung pada kegagalan. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Karena tidak lain dan tidak bukan disebabkan peserta didik tidak memiliki rasa percaya diri saat ujian. Jika kita sudah belajar dengan baik dan usaha yang maksimal, jangan lupa kita juga harus berdo’a. Dengan pendekatan diri pada sang pencipta akan timbul rasa tenang dan nyaman. Rasa percaya diri tersebut akan timbul kuat pada diri peserta didik kalo peserta didik tersebut sudah merasa benar- benar siap lahir dan batin untuk ujian. Nah, kalo sudah memiliki rasa percaya diri sedemikian rupa maka siapapun yang jaga ujian, dimanapun bangku tempat duduk kita saat ujian dll tidak akan membuat kita takut atau grogi saat ujian. Dan kemungkinan besar hasil ujian kita akan sesuai harapan.

B.   HAL – HAL LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM BELAJAR

       Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sengaja melalui membaca(memahami, menghafal, menelaah dll) dan  latihan-latihan yang dilakukan dengan berulang-ulang sehingga individu yang melakukan kegiatan tersebut terjadi perubahan pada dirinya. Perubahan tersebut antara lain dari belum tahu menjadi tahu, dari belum paham menjadi memahami, dari belum bisa menjadi bisa dan lain-lain.

       Selain kesiapan mental dalam belajar ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga hasil belajar bisa optimal. Kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Kondisi fisik harus sehat.

       Kesehatan jasmani merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar. Sehubungan dengan hal tersebut maka peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar sangatlah perlu menjaga kesehatan tubuh. Untuk menjaga tubuh tetap prima maka perlu sekali peserta didik memiliki pola makan yang sehat, dalam arti mengkonsumsi makanan yang bernutrisi sesuai kebutuhan tubuh kita. Selain mengkonsumsi makanan yang bernutrisi juga perlu sekali melakukan kegiatan olah raga. Jika kita tidak sehat maka aktivitas belajar kita akan tertanggu.  Kita ambil contoh sederhana saja jika pada saat belajar untuk menghadapi ujian peserta didik sakit flu (pilek) betapa tersiksanya atau terganggunya peserta didik dalam belajarnya. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka sangatlah penting sekali peserta didik untuk senantiasa menjaga kesehatannya menjelang ujian.

  1. Tempat belajar

       Tempat belajar sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan peserta didik dalam belajarnya, Kita ambil contoh yang sangat sederhana saja, jika kondisi tempat belajar peserta didik kurang mendukung (tidak rapi) , banyak orang yang lalu lalang dll maka dapat dipastikan kondisi seperti itu sangatlah kurang mendukung keberhasilan peserta didik dalam belajarnya. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam rangka keberhasilan belajar tempat belajar haruslah memenuhi syarat untuk dapat belajar dengan baik.

  1. Belajar perlu istirahat

       Daya tahan individu satu dengan yang lain dalam hal belajar berbeda-beda. Ada  individu yang memiliki daya tahan belajar kuat atau tangguh tapi ada juga yang  mudah  mengalami kelelahan dalam kegiatan belajarnya. Kegiatan belajar yang merupakan aktifitas psikis yang pada dasarnya tidak berbeda dengan kegiatan yang bersifat fisik, sehingga dalam batas tertentu perlu istirahat. Sehingga jika dalam melakukan kegiatan belajar yang berlebihan tanpa istirahat maka akan berakibat kurang baik , otak menjadi lelah. Salah satu gejala kelelahan otak antara lain timbul rasa pusing- pusing, sulit konsenterasi, cepat lupa, dll. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka kegiatan belajar perlu istirahat secukupnya, yang fungsinya adalah untuk mengendapkan bahan pelajaran yang kita pelajari sehingga akan mudah kita keluarkan (recall) pada saat kita butuhkan yaitu pada waktu ujian

4.                4. Menyelesaikan Tugas yang Masih Tertunda

Tidak sedikit siswa yang melakukan prokrastinasi dalam belajar, akibatnya adalah tugas menjadi sangat menumpuk sehingga membuat peserta didik merasa lelah untuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum diselesaikan. Oleh karena itu, gunakan waktu yang masih tersedia untuk menghadap guru mata pelajaran dan menyelesaikan tugas-tugas yang belum dikumpulkan. Dengan begitu, kalian tidak akan merasa terbebani pada rasa bersalah, cemas dan takut akan nilai yang kurang baik dan menghadapi ujian pun bisa menjadi lebih fokus dan tenang.


                                      ~SEMANGAT ANAK-ANAKKU~

 

 


Rabu, 24 Februari 2021

REFLEKSI DIRI BERMAIN GAME ONLINE

HARI/TANGGAL   : Sabtu / 06 Maret 2021

MATERI                  : Refleksi Diri Bermain Game Online
KELAS                    : VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF
SEKOLAH              : SMP Negeri 2 Sragi
KONSELOR            :  Ayu Andani, S.Pd.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
selamat pagi . apa kabar anak-anak?
semoga selalu diberikan kesehatan baik secara fisik maupun psikis, dan selalu dalam lindungan Allah SWT dan tetap bisa menjaga rasa semangat dalam kegiatan belajar, ya. aamiin..

hari ini ibu akan memberikan kalian beberapa pertanyaan yang harus kalian jawab sesuai dengan kondisi dan keadaan diri masing-masing ya. jangan ada isian jawaban kalian sama dengan teman yang lain. karena nanti akan berpengaruh pada tahap layanan konseling selanjutnya. belajarlah untuk percaya pada diri sendiri. ok? good..

refleksi diri kali ini masih berkaitan dengan materi kita sebelumnya, yaitu "Dampak negatif dari game Online Untuk Kalangan Pelajar" yang bisa kalian akses pada link : https://youtu.be/FdUf1qmfv7A
so, berikut pertanyaannya...


Pertanyaan:

1. Setelah menonton video tentang “dampak negatif dari game online” apakah kalian sudah memahami isi dari materi tersebut? Dan berikan alasannya..

2. Apakah kalian sering menghabiskan waktu untuk bermain game online? berikan alasannya..

3. Apakah kalian pernah atau bahkan selalu menghabiskan uang untuk membeli kuota agar bisa bermain game online ? berikan alasannya..

4. Pada jam berapakah kalian menghabiskan waktu untuk bermain game ? 

5. Apa saja dampak negatif yang kalian rasakan jika larut dalam bermain game online? 

~SELAMAT MENGINTROPEKSI DIRI~

Selasa, 23 Februari 2021

Dampak Negatif dari Game Online Untuk Kalangan Pelajar

HARI/TANGGAL   : Sabtu / 20 Februari  2021

MATERI                  : Jadwal Pelajaran, Piket dan Pengumpulan Tugas
KELAS                    : VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF
SEKOLAH              : SMP Negeri 2 Sragi 
KONSELOR           :  Ayu Andani, S.Pd.



Materi pembelajaran sudah tersedia pada link berikut:


di share kepada siswa melalui lin google form. 
halaman ini hanya untuk dokumentasi saja.

Jadwal Pelajaran, Piket dan Pengumpulan Tugas

HARI/TANGGAL   : Sabtu / 13 Februari  2021

MATERI                  : Jadwal Pelajaran, Piket dan Pengumpulan Tugas
KELAS                    : VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF
SEKOLAH              : SMP Negeri 2 Sragi 
KONSELOR           :  Ayu Andani, S.Pd.









di share kepada siswa melalui pdf. 
halaman ini hanya untuk dokumentasi saja.





Refleksi Diri Empati

 HARI/TANGGAL   : Sabtu / 06 Februari  2021

MATERI                  : Refleksi Diri Empati
KELAS                    : VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF
SEKOLAH              : SMP Negeri 2 Sragi 
KONSELOR           :  Ayu Andani, S.Pd.







di share kepada siswa melalui pdf. 
halaman ini hanya untuk dokumentasi saja.




Jumat, 29 Januari 2021

Empati

HARI/TANGGAL   : Sabtu / 30 Januari 2021

MATERI                  : Empati
KELAS                    : VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF
SEKOLAH              : SMP Negeri 2 Sragi 
KONSELOR           :  Ayu Andani, S.Pd.


Pengertian Empati

Sikap empati adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan berbagi rasa dengan makhluk lain yang dapat juga dilihat dari segi emosional. Tak hanya manusia, namun juga hewan hingga karakter fiksi sekalipun. Contoh sikap empati adalah ketika seseorang mampu bersikap seakan berada di posisi orang lain sehingga terasa ketulusannya. empati tidak saja berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga mengandung aspek afektif dan ditunjukkan dalam gerakan, cara berkomunikasi

Mengapa sikap empati itu penting? Beberapa alasannya adalah:

  • Lebih mudah bekerja sama dengan orang lain
  • Mudah membangun pertemanan bahkan persahabatan
  • Berpengaruh dalam pengambilan keputusan moral
  • Berani mengambil sikap ketika orang lain mendapat perlakuan tak adil

Cara Mengembangkan Sikap Empati

Berikut beberapa cara membangun sikap empati adalah:

1. Berkumpul dengan orang yang berbeda

Penting untuk keluar dari zona nyaman dan berkumpul dengan mereka yang berbeda. Entah itu perbedaan latar belakang, kemampuan sosial ekonomi, etnis, kesempurnaan fisik, dan lainnya. Orang yang banyak menghabiskan waktu dengan mereka yang berbeda akan memiliki rasa empati lebih besar. Ini adalah bentuk penerimaan terhadap perbedaan dan bukannya menonjolkan bahwa diri sendiri berbeda dengan orang lain.

2. Menjadi pendengar yang baik

Tugas utama Anda adalah mendengarkan cerita dari sudut pandang orang lain, dan memahami orang lain mengekspresikan emosinya. Mau menyisihkan waktu dan mendengarkan curahan hati orang lain adalah bentuk empati yang nyata.

3. Posisikan diri menjadi orang lain

Meski mustahil bisa memposisikan diri seperti orang lain secara 100%, setidaknya cobalah membayangkan jika Anda ada di posisi tersebut. Bayangkan jika Anda yang mengalami hal itu. Pola pikir seperti ini akan membantu membentuk sikap empati sekaligus rasa solidaritas untuk bersama-sama merasakan apa yang mereka hadapi.

4. Tertarik dengan sekitar

Contoh sikap empati adalah ketika seseorang dengan tulus mau mengajak bicara orang asing yang duduk di sebelahnya saat hari pertama orientasi sekolah. Bukan untuk menginterogasi, namun orang yang memiliki sikap empati tinggi menganggap orang lain lebih menarik ketimbang dirinya sendiri.

Unsur-unsur Dalam Empati, yaitu:

(a) terjadinya proses persepsi dengan orang lain;

(b) terjadinya proses komunikasi dengan orang lain baik verbal maupun nonverbal;

(c) mengerti (memahami) apa yang dirasakan oleh orang lain;

(d) mengerti (memahami) kebutuhan orang lain;

(e) tidak hanya mengandung aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif yang ditunjukkan dalam gerakan, cara berkomunikasi;

(f) tidak ikut lebur dalam pengalaman emosional orang lain

Ciri-Ciri atau Karakteristik Orang yang Berempati Tinggi

 a. Ikut merasakan (sharing feeling), yaitu kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain; hal ini berarti individu mampu merasakan suatu emosi dan mampu mengidentifikasikan perasaan orang lain.

 b. Dibangun berdasarkan kesadaran diri. Semakin seseorang mengetahui emosi diri sendiri, semakin terampil pula ia membaca emosi orang lain. Dengan hal ini, ia berarti mampu membedakan antara apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain dengan reaksi dan penilaian individu itu sendiri. Dengan meningkatkan kemampuan kognitif, khususnya kemampuan menerima perspektif orang lain dan mengambil alih perannya, seseorang akan memperoleh pemahaman terhadap perasaan orang lain dan emosi orang lain yang lebih lengkap, sehingga mereka lebih menaruh belas kasihan kemudian lebih banyak membantu orang lain dengan cara yang tepat.

c. Peka terhadap bahasa isyarat; Karena emosi lebih sering diungkapkan melalui bahasa isyarat (non-verbal). Hal ini berarti bahwa individu mampu membaca perasaan orang lain dalam bahasa non-verbal seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan gerak-geriknya.

 d. Mengambil peran (role taking); empati melahirkan perilaku konkrit. Jika individu menyadari apa yang dirasakannya setiap saat, maka empati akan datang dengan sendirinya, dan lebih lanjut individu tersebut akan bereaksi terhadap isyarat-isyarat orang lain dengan sensasi fisiknya sendiri tidak hanya dengan pengakuan kognitif terhadap perasaan mereka, akan tetapi, empati juga akan membuka mata individu tersebut terhadap penderitaan orang lain; dengan arti, ketika seseorang merasakan penderitaan orang lain maka orang tersebut akan peduli dan ingin bertindak.

 e. Kontrol emosi; menyadari dirinya sedang berempati; tidak larut dalam masalah yang sedang dihadapi oleh orang lain

 

 ~SELAMAT BELAJAR~

 

 


Rabu, 13 Januari 2021

Refleksi Diri Pantang Menyerah

HARI/TANGGAL   : Sabtu / 23 Januari 2021

MATERI                  : Refleksi Diri Pantang Menyerah
KELAS                    : VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF
SEKOLAH              : SMP Negeri 2 Sragi 
KONSELOR           :  Ayu Andani, S.Pd.


REFLEKSI DIRI

Petunjuk pengisian :

Silakan kalian jawab pertanyaan di bawah sesuai perasaaan diri sendiri mengenai materi “Pantang Menyerah” yang sudah kita bahas pada pertemuan sebelumnya.

1. bubuhkan tanda ceklist pada salah satu gambar yang dapat mewakili perasaan kalian setelah mempelajari materi ini : 

A. memahami materi

  

 

    B. merasa bingung


C. merasa sangat tidak memahami materi 


2. apa yang kalian kuasai dari materi "Pantang Menyerah" ?

3. bagian apa yang belum kalian kuasai dari materi "Pantang Menyerah"?

4. apa upaya kalian untuk menguasai materi yang belum kalian kuasai ?

5. sebutkan hal menarik dari aktivitas pembelajaran yang sudah kalian lakukan pada pertemuan materi "Pantang Menyerah"! Berikan alasannya.

6. sebutkan hal yang tidak menarik dari aktivitas pembelajaran yang sudah kalian lakukan pada pertemuan materi "Pantang Menyerah"! Berikan alasannya

 

~SELAMAT MENGERJAKAN~